Ditulis oleh : Ust. Tri Asmoro Kurniawan

Alangkah pentingnya mengenali diri sendiri! Karakter maupun kecenderungannya. Sebab setiap kita tentu saja tidak akan pernah sama. Sedang masing-masingnya membutuhkan penanganan sendiri-sendiri. Secara umum, ada di antara kita yang cenderung berani dan ringan saat melakukan sesuatu. Namun, ada juga yang cenderung malas dan menahan diri ketika harus melakukan sesuatu.

Padahal, setan bisa mengenali kecenderungan kita itu. Untuk kemudian menentukan manakah cara yang tepat untuk menyesatkan kita. Jika sikap malas dan menahan diri yang lebih dominan, setan akan menghalang-halangi, memberat-beratkan, serta mudah memberi alasan untuk meninggalkan sebuah kewajiban. Sehingga kita meninggalkannya, atau mengerjakan dengan kelalaian atau kekurangan. Adapun jika sikap ringan dan berani maju yang dominan, maka setan akan mendorong kita untuk melampaui batas, serta menganggap sedikit apa yang telah kita kerjakan.

Ini akan terjadi di seluruh bentuk perintah dan larangan Allah; sikap mengabaikan atau berlebih-lebihan. Sehingga sikap pertengahan selalunya adalah yang terbaik dan adil, meski tentu saja tidak mudah. Sebagiannya tergantung kepada kemampuan kita mengenali diri sendiri, dan kemempuan memilih strategi menghadapi godaan setan itu.

Pun demikian halnya dengan sikap kita terhadap kemapanan hidup; harta melimpah, fasilitas mewah, pakaian indah, rumah megah, atau makanan yang menggugah selera. Juga sikap kita terhadap ketidakmapanan yang bermakna kebalikan dari semua yang kita sebut di depan. Kita tidak boleh memihak salah satunya secara ekstrem. Terlalu cinta dunia hingga hidup seluruhnya adalah untuk mengejarnya. Kegagalan pencapaiaannya kita maknakan sebagai kegagalan hidup. Atau terlalu benci dunia, hingga seluruh perolehan dunia adalah nista di mata kita. Hingga capaian-capaianya –meski halal- kita maknai sebagai musibah perusak akhirat.

Yang pertama harus kita fahami adalah bahwa kekayaan atau kemiskinan, dua-duanya bersifat netral; tergantung bagaimana kita mengelolanya. Dua-duanya adalah kendaraan iman. Dua-duanya ujian. Yang bisa membawa kita ke tingkat ketakwaan dan iman yang tinggi. Namun juga bisa menjerumuskan dan melemparkan kita ke dalam kekafiran. Kita tidak perlu menolak kekayaan jika Allah menghendaki demikian. Sebagaimana kita juga tidak boleh mengingkari kemiskinan jika demikianlah keadaan kita.

Bersikap zuhud bukanlah berarti menolak dunia. Sebab zuhud adalah meninggalkan yang tidak bermanfaat bagi akhirat kita. Hasan al-Basri pernah berkata, “Zuhud terhadap dunia bukannya dengan mengharamkan yang halal dan menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud adalah apa yang ada di tangan Allah, lebih kamu percayai daripada apa yang ada di tanganmu. Dan pahala musibah, jika mengenaimu, lebih kamu sukai daripada jika tidak menimpamu.”

Di dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa ada manusia yang jika dijadikan Allah sebagai orang kaya, maka keadaan itu akan mencelakaan dirinya. Namun ada juga manusia yang jika dijadikan Allah sebagai orang miskin, maka keadaan itu akan mencelakakan dirinya. Masing-masing memiliki keutamaan sendiri-sendiri.

Artinya, mana yang lebih baik di antara keduanya; kaya atau miskin, adalah yang dengan keadaan itu kita menjadi bertakwa kepada Allah. Karena Allah tidak mengutamakan seorang hamba karena kekayaan atau kemiskinannya. Dia akan mengutamakan seorang hamba di atas yang lain karena ketakwaannya.

Dari sinilah pentingnya mengenali kecendrungan diri kita masing-masing. Jika kita termasuk orang yang lebih bisa bertakwa di dalam kecukupan, maka hendaklah kita belajar banyak-banyak bersyukur. Sebab itulah yang terbaik bagi hamba-hamba yang diberi kelapangan rezeki oleh Allah. Dan Allah benar-benar ridha kepada seorang hamba yang memakan makanan dan meminum minuman, kemudian atas itu semua, dia memuji-Nya. Seperti Abu Bakar, Usman, Abdurrahman bin ‘Auf, dan yang semisal dengan mereka yang mulia di dalam limpahan kekayaan.

Mutharrif berkata, “Aku diberi kesehatan kemudian bersyukur atasnya, benar-benar lebih aku cintai daripada tertimpa musibah lalu bersabar.”

Namun jika kita termasuk yang lebih bisa bertakwa dan istiqamah di atas keimanan dalam keadaan fakir, tentulah kita harus banyak bersabar. Sebab itulah yang terbaik bagi hamba-hamba yang disempitkan rezekinya oleh Allah. Seperti Bilal, Ibnu Mas’ud, Ammar bin Yasir, atau yang semisal dengan mereka, yang mulia dalam kefakiran. Rezeki telah ditetapkan, sedang kaya atau miskin, Allah lebih tahu kemaslahatan bagi hamba-hamba-Nya.

Rasulullah pernah bersabda kepada Mu’adz, “Jangan lupa berdoa setelah shalat, ‘Ya Allah, tolonglah hamba agar senantiasa berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baik ibadah.”

Jadi yang penting adalah bagaimana kita bisa beribadah kepada Allah sebaik-baiknya di seluruh keadaan kita. Selain karena ini adalah tujuan penciptaan manusia, juga karena inilah nikmat tertinggi di dalam hidup ini.

Benarlah ucapan Hasan al-Basri, “Barangsiapa yang melihat nikmat Allah hanya ada pada makanan, minuman, dan pakaian, berarti keilmuannya sangat minim dan adzabnya telah datang.” Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here